{
    "number": 75,
    "name": "القيٰمة",
    "name_latin": "Al-Qiyāmah",
    "name_id": "Al-Qiyamah",
    "name_trans_id": "Hari Kiamat",
    "number_of_verse": 40,
    "category": "Makkiyah",
    "arabics": {
        "1": "لَآ اُقْسِمُ بِيَوْمِ الْقِيٰمَةِۙ",
        "2": "وَلَآ اُقْسِمُ بِالنَّفْسِ اللَّوَّامَةِ",
        "3": "اَيَحْسَبُ الْاِنْسَانُ اَلَّنْ نَّجْمَعَ عِظَامَهٗ ۗ",
        "4": "بَلٰى قٰدِرِيْنَ عَلٰٓى اَنْ نُّسَوِّيَ بَنَانَهٗ",
        "5": "بَلْ يُرِيْدُ الْاِنْسَانُ لِيَفْجُرَ اَمَامَهٗۚ",
        "6": "يَسْـَٔلُ اَيَّانَ يَوْمُ الْقِيٰمَةِۗ",
        "7": "فَاِذَا بَرِقَ الْبَصَرُۙ",
        "8": "وَخَسَفَ الْقَمَرُۙ",
        "9": "وَجُمِعَ الشَّمْسُ وَالْقَمَرُۙ",
        "10": "يَقُوْلُ الْاِنْسَانُ يَوْمَىِٕذٍ اَيْنَ الْمَفَرُّۚ",
        "11": "كَلَّا لَا وَزَرَۗ",
        "12": "اِلٰى رَبِّكَ يَوْمَىِٕذِ ِۨالْمُسْتَقَرُّۗ",
        "13": "يُنَبَّؤُا الْاِنْسَانُ يَوْمَىِٕذٍۢ بِمَا قَدَّمَ وَاَخَّرَۗ",
        "14": "بَلِ الْاِنْسَانُ عَلٰى نَفْسِهٖ بَصِيْرَةٌۙ",
        "15": "وَّلَوْ اَلْقٰى مَعَاذِيْرَهٗۗ",
        "16": "لَا تُحَرِّكْ بِهٖ لِسَانَكَ لِتَعْجَلَ بِهٖۗ",
        "17": "اِنَّ عَلَيْنَا جَمْعَهٗ وَقُرْاٰنَهٗ ۚ",
        "18": "فَاِذَا قَرَأْنٰهُ فَاتَّبِعْ قُرْاٰنَهٗ ۚ",
        "19": "ثُمَّ اِنَّ عَلَيْنَا بَيَانَهٗ ۗ",
        "20": "كَلَّا بَلْ تُحِبُّوْنَ الْعَاجِلَةَۙ",
        "21": "وَتَذَرُوْنَ الْاٰخِرَةَۗ",
        "22": "وُجُوْهٌ يَّوْمَىِٕذٍ نَّاضِرَةٌۙ",
        "23": "اِلٰى رَبِّهَا نَاظِرَةٌ ۚ",
        "24": "وَوُجُوْهٌ يَّوْمَىِٕذٍۢ بَاسِرَةٌۙ",
        "25": "تَظُنُّ اَنْ يُّفْعَلَ بِهَا فَاقِرَةٌ ۗ",
        "26": "كَلَّآ اِذَا بَلَغَتِ التَّرَاقِيَۙ",
        "27": "وَقِيْلَ مَنْ ۜرَاقٍۙ",
        "28": "وَّظَنَّ اَنَّهُ الْفِرَاقُۙ",
        "29": "وَالْتَفَّتِ السَّاقُ بِالسَّاقِۙ",
        "30": "اِلٰى رَبِّكَ يَوْمَىِٕذِ ِۨالْمَسَاقُ ۗ ࣖ",
        "31": "فَلَا صَدَّقَ وَلَا صَلّٰىۙ",
        "32": "وَلٰكِنْ كَذَّبَ وَتَوَلّٰىۙ",
        "33": "ثُمَّ ذَهَبَ اِلٰٓى اَهْلِهٖ يَتَمَطّٰىۗ",
        "34": "اَوْلٰى لَكَ فَاَوْلٰىۙ",
        "35": "ثُمَّ اَوْلٰى لَكَ فَاَوْلٰىۗ",
        "36": "اَيَحْسَبُ الْاِنْسَانُ اَنْ يُّتْرَكَ سُدًىۗ",
        "37": "اَلَمْ يَكُ نُطْفَةً مِّنْ مَّنِيٍّ يُّمْنٰى",
        "38": "ثُمَّ كَانَ عَلَقَةً فَخَلَقَ فَسَوّٰىۙ",
        "39": "فَجَعَلَ مِنْهُ الزَّوْجَيْنِ الذَّكَرَ وَالْاُنْثٰىۗ",
        "40": "اَلَيْسَ ذٰلِكَ بِقٰدِرٍ عَلٰٓى اَنْ يُّحْيِ َۧ الْمَوْتٰى ࣖ"
    },
    "latins": {
        "1": "Lā uqsimu biyaumil-qiyāmah(ti).",
        "2": "Wa lā uqsimu bin nafsil-lawwāmah(ti).",
        "3": "Ayaḥsabul-insānu allan najma'a 'iẓāmah(ū).",
        "4": "Balā qādirīna 'alā an nusawwiya banānah(ū).",
        "5": "Bal yurīdul-insānu liyafjura amāmah(ū).",
        "6": "Yas'alu ayyāna yaumul-qiyāmah(ti).",
        "7": "Fa iżā bariqal-baṣar(u).",
        "8": "Wa khasafal-qamar(u).",
        "9": "Wa jumi'asy-syamsu wal-qamar(u).",
        "10": "Yaqūlul-insānu yauma'iżin ainal-mafarr(u).",
        "11": "Kallā lā wazar(a).",
        "12": "Ilā rabbika yauma'iżinil-mustaqarr(u).",
        "13": "Yunabba'ul-insānu yauma'iżim bimā qaddama wa akhkhar(a).",
        "14": "Balil-insānu 'alā nafsihī baṣīrah(tun).",
        "15": "Wa lau alqā ma'āżīrah(ū).",
        "16": "Lā tuḥarrik bihī lisānaka lita'jala bih(ī).",
        "17": "Inna 'alainā jam'ahū wa qur'ānah(ū).",
        "18": "Fa iżā qara'nāhu fattabi' qur'ānah(ū).",
        "19": "Ṡumma inna 'alainā bayānah(ū).",
        "20": "Kallā bal tuḥibbūnal-'ājilah(ta).",
        "21": "Wa tażarūnal-'ākhirah(ta).",
        "22": "Wujūhuy yauma'iżin nāḍirah(tun).",
        "23": "Ilā rabbihā nāẓirah(tun).",
        "24": "Wa wujūhuy yauma'iżim bāsirah(tun).",
        "25": "Taẓunnu ay yuf'ala bihā fāqirah(tun).",
        "26": "Kallā iżā balagatit-tarāqiy(a).",
        "27": "Wa qīla man…rāq(in).",
        "28": "Wa ẓanna annahul-firāq(u).",
        "29": "Waltaffatis-sāqu bis-sāq(i).",
        "30": "Ilā rabbika yauma'iżinil-masāq(u).",
        "31": "Falā ṣaddaqa wa lā ṣallā.",
        "32": "Wa lākin każżaba wa tawallā.",
        "33": "Ṡumma żahaba ilā ahlihī yatamaṭṭā.",
        "34": "Aulā laka fa'aulā.",
        "35": "Ṡumma aulā laka fa'aulā.",
        "36": "Ayaḥsabul-insānu ay yutraka sudā(n).",
        "37": "Alam yaku nuṭfatam mim maniyyiy yumnā.",
        "38": "Ṡumma kāna 'alaqatan fa khalaqa fa sawwā.",
        "39": "Fa ja'ala minhuz-zaujainiż-żakara wal-unṡā.",
        "40": "Alaisa żālika  biqādirin 'alā ay yuḥyiyal-mautā."
    },
    "translations": {
        "id": {
            "1": "Aku bersumpah demi hari Kiamat.",
            "2": "Aku bersumpah demi jiwa yang sangat menyesali (dirinya sendiri).",
            "3": "Apakah manusia mengira bahwa Kami tidak akan mengumpulkan (kembali) tulang-belulangnya?",
            "4": "Tentu, (bahkan) Kami mampu menyusun (kembali) jari-jemarinya dengan sempurna.",
            "5": "Akan tetapi, manusia hendak berbuat maksiat terus-menerus.",
            "6": "Dia bertanya, “Kapankah hari Kiamat itu?”",
            "7": "Apabila mata terbelalak (ketakutan),",
            "8": "bulan pun telah hilang cahayanya,",
            "9": "serta matahari dan bulan dikumpulkan,",
            "10": "pada hari itu manusia berkata, “Ke mana tempat lari?”",
            "11": "Sekali-kali tidak! Tidak ada tempat berlindung.",
            "12": "(Hanya) kepada Tuhanmu tempat kembali pada hari itu.",
            "13": "Pada hari itu diberitakan kepada manusia apa yang telah dia kerjakan dan apa yang telah dia lalaikan.",
            "14": "Bahkan, manusia menjadi saksi atas dirinya sendiri735)",
            "15": "walaupun dia mengemukakan alasan-alasan(-nya).",
            "16": "Jangan engkau (Nabi Muhammad) gerakkan lidahmu (untuk membaca Al-Qur’an) karena hendak tergesa-gesa (menguasai)-nya.",
            "17": "Sesungguhnya tugas Kamilah untuk mengumpulkan (dalam hatimu) dan membacakannya.",
            "18": "Maka, apabila Kami telah selesai membacakannya, ikutilah bacaannya itu.",
            "19": "Kemudian, sesungguhnya tugas Kami (pula)-lah (untuk) menjelaskannya.",
            "20": "Sekali-kali tidak! Bahkan, kamu mencintai kehidupan dunia,",
            "21": "dan mengabaikan (kehidupan) akhirat.",
            "22": "Wajah-wajah (orang mukmin) pada hari itu berseri-seri",
            "23": "(karena) memandang Tuhannya.",
            "24": "Wajah-wajah (orang kafir) pada hari itu muram",
            "25": "(karena) mereka yakin akan ditimpakan kepadanya malapetaka yang sangat dahsyat.",
            "26": "Sekali-kali tidak! Apabila (nyawa) telah sampai di kerongkongan,",
            "27": "dan dikatakan (kepadanya), “Siapa yang (dapat) menyembuhkan?”",
            "28": "Dia pun yakin bahwa itulah waktu perpisahan (dengan dunia),",
            "29": "dan bertautlah betis (kiri) dengan betis (kanan).736)",
            "30": "Kepada Tuhanmulah pada hari itu (manusia) digiring.",
            "31": "Dia tidak membenarkan (Al-Qur’an dan Rasul) dan tidak melaksanakan salat.",
            "32": "Akan tetapi, dia mendustakan (Al-Qur’an) dan berpaling (dari kebenaran).",
            "33": "Kemudian, dia pergi kepada keluarganya dengan menyombongkan diri.",
            "34": "Celakalah kamu! Maka, celakalah!",
            "35": "Kemudian, celakalah kamu! Maka, celakalah!",
            "36": "Apakah manusia mengira akan dibiarkan begitu saja (tanpa pertanggungjawaban)?",
            "37": "Bukankah dia dahulu setetes mani yang ditumpahkan (ke dalam rahim)?",
            "38": "Kemudian, (mani itu) menjadi sesuatu yang melekat, lalu Dia menciptakan dan menyempurnakannya.",
            "39": "Lalu, Dia menjadikan darinya sepasang laki-laki dan perempuan.",
            "40": "Bukankah (Allah) itu kuasa (pula) menghidupkan orang mati?"
        }
    },
    "tafsirs": {
        "id": {
            "kemenag": {
                "1": "1-2. Akhir surah al-Muddasir menguraikan tentang Kiamat serta betapa mengerikannya peristiwa itu, namun kaum pendurhaka mendustakannya. Segala argumen sudah dipaparkan, kalau mereka tetap tidak beriman, maka ayat ini menunjukkan Allah, tidak akan meladeni mereka lagi. Aku bersumpah dengan kepastian hari Kiamat karena semuanya sudah jelas, dan Aku juga bersumpah dengan jiwa yang selalu menyesali dirinya sendiri. Sungguh manusia pasti akan dibangkitkan.",
                "2": "1-2. Akhir surah al-Muddasir menguraikan tentang Kiamat serta betapa mengerikannya peristiwa itu, namun kaum pendurhaka mendustakannya. Segala argumen sudah dipaparkan, kalau mereka tetap tidak beriman, maka ayat ini menunjukkan Allah, tidak akan meladeni mereka lagi. Aku bersumpah dengan kepastian hari Kiamat karena semuanya sudah jelas, dan Aku juga bersumpah dengan jiwa yang selalu menyesali dirinya sendiri. Sungguh manusia pasti akan dibangkitkan.",
                "3": "3-4. Atas penegasan tentang kepastian hari Kiamat mestinya manusia percaya, tetapi banyak yang ingkar. Apakah manusia mengira, bahwa Kami tidak akan mengumpulkan kembali tulang-belulangnya yang telah berserakan setelah kematiannya? Jangankan hanya mengumpulkan kembali tulang-belulang, bahkan Kami mampu menyusun kembali jari jemarinya dengan sempurna.",
                "4": "3-4. Atas penegasan tentang kepastian hari Kiamat mestinya manusia percaya, tetapi banyak yang ingkar. Apakah manusia mengira, bahwa Kami tidak akan mengumpulkan kembali tulang-belulangnya yang telah berserakan setelah kematiannya? Jangankan hanya mengumpulkan kembali tulang-belulang, bahkan Kami mampu menyusun kembali jari jemarinya dengan sempurna.",
                "5": "5-6. Kepastian Kiamat tidak diragukan lagi, tetapi manusia hendak membuat maksiat terus-menerus. Manusia tidak menyadari sama sekali atas akibat perbuatannya. Justru dengan nada menantang dia bertanya, “Kapankah hari Kiamat yang diancamkan itu?”",
                "6": "5-6. Kepastian Kiamat tidak diragukan lagi, tetapi manusia hendak membuat maksiat terus-menerus. Manusia tidak menyadari sama sekali atas akibat perbuatannya. Justru dengan nada menantang dia bertanya, “Kapankah hari Kiamat yang diancamkan itu?”",
                "7": "7-10.Atas pertanyaan kaum pendurhaka yang tujuannya untuk mengejek maka ayat ini menegaskan ancamannya kepada mereka. Maka apabila mata terbelalak karena ketakutan, dan bulan pun telah hilang cahayanya, lalu matahari dan bulan dikumpulkan, dan saat itulah Kiamat terjadi. Pada hari itu manusia berkata, “Kemana tempat lari untuk menyelamatkan diri?” Sama sekali tidak ada tempat yang aman.",
                "8": "7-10.Atas pertanyaan kaum pendurhaka yang tujuannya untuk mengejek maka ayat ini menegaskan ancamannya kepada mereka. Maka apabila mata terbelalak karena ketakutan, dan bulan pun telah hilang cahayanya, lalu matahari dan bulan dikumpulkan, dan saat itulah Kiamat terjadi. Pada hari itu manusia berkata, “Kemana tempat lari untuk menyelamatkan diri?” Sama sekali tidak ada tempat yang aman.",
                "9": "7-10.Atas pertanyaan kaum pendurhaka yang tujuannya untuk mengejek maka ayat ini menegaskan ancamannya kepada mereka. Maka apabila mata terbelalak karena ketakutan, dan bulan pun telah hilang cahayanya, lalu matahari dan bulan dikumpulkan, dan saat itulah Kiamat terjadi. Pada hari itu manusia berkata, “Kemana tempat lari untuk menyelamatkan diri?” Sama sekali tidak ada tempat yang aman.",
                "10": "7-10.Atas pertanyaan kaum pendurhaka yang tujuannya untuk mengejek maka ayat ini menegaskan ancamannya kepada mereka. Maka apabila mata terbelalak karena ketakutan, dan bulan pun telah hilang cahayanya, lalu matahari dan bulan dikumpulkan, dan saat itulah Kiamat terjadi. Pada hari itu manusia berkata, “Kemana tempat lari untuk menyelamatkan diri?” Sama sekali tidak ada tempat yang aman.",
                "11": "11-13. Pertanyaan manusia pada akhir ayat yang lalu, diberikan jawab-annya pada ayat-ayat ini. Sekali-kali tidak! Tidak ada tempat berlindung kecuali pada Allah semata! Hanya kepada Tuhanmu sajalah yang selama ini berbuat baik kepadamu wahai manusia, tidak kepada siapa pun selain-Nya, tempat kembali pada hari itu. Allah yang akan memutuskan seadil-adilnya atas segala urusan manusia. Pada hari itu diberitakan secara jelas dan tegas kepada manusia apa yang telah dikerjakannya dan apa yang dilalaikannya.",
                "12": "11-13. Pertanyaan manusia pada akhir ayat yang lalu, diberikan jawab-annya pada ayat-ayat ini. Sekali-kali tidak! Tidak ada tempat berlindung kecuali pada Allah semata! Hanya kepada Tuhanmu sajalah yang selama ini berbuat baik kepadamu wahai manusia, tidak kepada siapa pun selain-Nya, tempat kembali pada hari itu. Allah yang akan memutuskan seadil-adilnya atas segala urusan manusia. Pada hari itu diberitakan secara jelas dan tegas kepada manusia apa yang telah dikerjakannya dan apa yang dilalaikannya.",
                "13": "11-13. Pertanyaan manusia pada akhir ayat yang lalu, diberikan jawab-annya pada ayat-ayat ini. Sekali-kali tidak! Tidak ada tempat berlindung kecuali pada Allah semata! Hanya kepada Tuhanmu sajalah yang selama ini berbuat baik kepadamu wahai manusia, tidak kepada siapa pun selain-Nya, tempat kembali pada hari itu. Allah yang akan memutuskan seadil-adilnya atas segala urusan manusia. Pada hari itu diberitakan secara jelas dan tegas kepada manusia apa yang telah dikerjakannya dan apa yang dilalaikannya.",
                "14": "14-15. Sebenarnya setiap orang sudah mengetahui keadaan diri mereka masing-masing, tidak perlu diberitahu, bahkan manusia menjadi saksi atas dirinya sendiri, anggota tubuh mereka akan berbicara dan menjadi saksi atas perbuatan mereka. (Lihat surah Yasin/36, 65. An-Nur/24, 24. Fusssilat/41, 20-21). Dan meskipun dia mengemukakan alasan-alasannya, dengan argumen yang kuat, namun itu tidak akan membantu meringankan azab yang mereka terima.",
                "15": "14-15. Sebenarnya setiap orang sudah mengetahui keadaan diri mereka masing-masing, tidak perlu diberitahu, bahkan manusia menjadi saksi atas dirinya sendiri, anggota tubuh mereka akan berbicara dan menjadi saksi atas perbuatan mereka. (Lihat surah Yasin/36, 65. An-Nur/24, 24. Fusssilat/41, 20-21). Dan meskipun dia mengemukakan alasan-alasannya, dengan argumen yang kuat, namun itu tidak akan membantu meringankan azab yang mereka terima.",
                "16": "16-17. Kalau ayat-ayat yang lalu menjelaskan tentang orang-orang yang enggan memperhatikan Al-Qur’an, kelompok ayat ini menjelaskan tentang yang sangat memperhatikan Al-Qur’an. Jangan engkau, wahai Nabi Muhammad, gerakkan lidahmu untuk membaca Al-Qur’an sebelum Malaikat Jibril selesai membacakannya, karena hendak cepat-cepat menguasainya. Sesungguhnya Kami yang akan mengumpulkannya di dadamu dan membacakannya, sehingga engkau menjadi pandai dan lancar dalam membacanya.",
                "17": "16-17. Kalau ayat-ayat yang lalu menjelaskan tentang orang-orang yang enggan memperhatikan Al-Qur’an, kelompok ayat ini menjelaskan tentang yang sangat memperhatikan Al-Qur’an. Jangan engkau, wahai Nabi Muhammad, gerakkan lidahmu untuk membaca Al-Qur’an sebelum Malaikat Jibril selesai membacakannya, karena hendak cepat-cepat menguasainya. Sesungguhnya Kami yang akan mengumpulkannya di dadamu dan membacakannya, sehingga engkau menjadi pandai dan lancar dalam membacanya.",
                "18": "18-19. Caranya adalah apabila Kami melalui malaikat Jibril telah selesai membacakannya kepadamu maka ikutilah bacaannya itu dengan lidah serta pikiran dan hatimu secara sungguh-sungguh. Kemudian sesungguhnya Kami yang akan menjelaskan makna-maknanya.",
                "19": "18-19. Caranya adalah apabila Kami melalui malaikat Jibril telah selesai membacakannya kepadamu maka ikutilah bacaannya itu dengan lidah serta pikiran dan hatimu secara sungguh-sungguh. Kemudian sesungguhnya Kami yang akan menjelaskan makna-maknanya.",
                "20": "20-21. Ayat ini kembali menceritakan tentang orang-orang yang mengabaikan petunjuk Al-Qur’an. Tidak! Bahkan kamu terlalu mencintai kehidupan dunia yang fana ini, dan mengabaikan kehidupan akhirat yang sempurna dan abadi.",
                "21": "20-21. Ayat ini kembali menceritakan tentang orang-orang yang mengabaikan petunjuk Al-Qur’an. Tidak! Bahkan kamu terlalu mencintai kehidupan dunia yang fana ini, dan mengabaikan kehidupan akhirat yang sempurna dan abadi.",
                "22": "22-23. Setelah mengecam orang yang durhaka, ayat ini menjelaskan tentang keadaan manusia di akhirat sesuai dengan amalnya ketika di dunia. Wajah-wajah orang mukmin pada hari itu di akhirat berseri-seri karena rasa bahagia yang ada padanya ketika memandang Tuhannya.",
                "23": "22-23. Setelah mengecam orang yang durhaka, ayat ini menjelaskan tentang keadaan manusia di akhirat sesuai dengan amalnya ketika di dunia. Wajah-wajah orang mukmin pada hari itu di akhirat berseri-seri karena rasa bahagia yang ada padanya ketika memandang Tuhannya.",
                "24": "24-25. Dan ada juga wajah-wajah orang kafir pada hari itu muram karena mereka lengah terhadap akhirat. Mereka merasa yakin bahwa akan ditimpakan kepadanya malapetaka yang sangat dahsyat. Dimana mereka tidak dapat mengelak sama sekali.",
                "25": "24-25. Dan ada juga wajah-wajah orang kafir pada hari itu muram karena mereka lengah terhadap akhirat. Mereka merasa yakin bahwa akan ditimpakan kepadanya malapetaka yang sangat dahsyat. Dimana mereka tidak dapat mengelak sama sekali.",
                "26": "26-30. Ayat di atas mengingatkan siapa saja untuk tidak terlalu mencintai dunia karena setiap saat maut bisa datang. Sekali-kali tidak, yaitu tidak akan berlanjut kehidupan dunia ini, apabila nyawa seseorang telah sampai ke kerongkongan, dan ketika itu dikatakan kepadanya, “Siapa yang dapat menyembuhkan sakaratul maut ini?” Dan dia yakin bahwa itulah waktu perpisahan dengan dunia yang dicintainya, dan bertaut betis kiri dengan betis kanan, karena hebatnya penderitaan pada saat akan mati dan ketakutan akan meninggalkan dunia dan menghadapi akhirat, dan kepada Tuhanmulah pada hari itu kamu dihalau ke surga bagi yang taat dan ke neraka bagi yang durhaka.",
                "27": "26-30. Ayat di atas mengingatkan siapa saja untuk tidak terlalu mencintai dunia karena setiap saat maut bisa datang. Sekali-kali tidak, yaitu tidak akan berlanjut kehidupan dunia ini, apabila nyawa seseorang telah sampai ke kerongkongan, dan ketika itu dikatakan kepadanya, “Siapa yang dapat menyembuhkan sakaratul maut ini?” Dan dia yakin bahwa itulah waktu perpisahan dengan dunia yang dicintainya, dan bertaut betis kiri dengan betis kanan, karena hebatnya penderitaan pada saat akan mati dan ketakutan akan meninggalkan dunia dan menghadapi akhirat, dan kepada Tuhanmulah pada hari itu kamu dihalau ke surga bagi yang taat dan ke neraka bagi yang durhaka.",
                "28": "26-30. Ayat di atas mengingatkan siapa saja untuk tidak terlalu mencintai dunia karena setiap saat maut bisa datang. Sekali-kali tidak, yaitu tidak akan berlanjut kehidupan dunia ini, apabila nyawa seseorang telah sampai ke kerongkongan, dan ketika itu dikatakan kepadanya, “Siapa yang dapat menyembuhkan sakaratul maut ini?” Dan dia yakin bahwa itulah waktu perpisahan dengan dunia yang dicintainya, dan bertaut betis kiri dengan betis kanan, karena hebatnya penderitaan pada saat akan mati dan ketakutan akan meninggalkan dunia dan menghadapi akhirat, dan kepada Tuhanmulah pada hari itu kamu dihalau ke surga bagi yang taat dan ke neraka bagi yang durhaka.",
                "29": "26-30. Ayat di atas mengingatkan siapa saja untuk tidak terlalu mencintai dunia karena setiap saat maut bisa datang. Sekali-kali tidak, yaitu tidak akan berlanjut kehidupan dunia ini, apabila nyawa seseorang telah sampai ke kerongkongan, dan ketika itu dikatakan kepadanya, “Siapa yang dapat menyembuhkan sakaratul maut ini?” Dan dia yakin bahwa itulah waktu perpisahan dengan dunia yang dicintainya, dan bertaut betis kiri dengan betis kanan, karena hebatnya penderitaan pada saat akan mati dan ketakutan akan meninggalkan dunia dan menghadapi akhirat, dan kepada Tuhanmulah pada hari itu kamu dihalau ke surga bagi yang taat dan ke neraka bagi yang durhaka.",
                "30": "26-30. Ayat di atas mengingatkan siapa saja untuk tidak terlalu mencintai dunia karena setiap saat maut bisa datang. Sekali-kali tidak, yaitu tidak akan berlanjut kehidupan dunia ini, apabila nyawa seseorang telah sampai ke kerongkongan, dan ketika itu dikatakan kepadanya, “Siapa yang dapat menyembuhkan sakaratul maut ini?” Dan dia yakin bahwa itulah waktu perpisahan dengan dunia yang dicintainya, dan bertaut betis kiri dengan betis kanan, karena hebatnya penderitaan pada saat akan mati dan ketakutan akan meninggalkan dunia dan menghadapi akhirat, dan kepada Tuhanmulah pada hari itu kamu dihalau ke surga bagi yang taat dan ke neraka bagi yang durhaka.",
                "31": "31-33. Ayat ini menjelaskan beberapa sebab mengapa para pendurhaka diseret ke neraka. karena dia dahulu tidak mau membenarkan Al-Qur’an dan Rasul dan juga tidak mau melaksanakan salat, tetapi justru dia mendustakan Rasul dan berpaling dari kebenaran. Bukan hanya sampai di situ, bahkan kemudian dia pergi kepada keluarganya dengan sombong. Dapat juga diartikan bahwa ayat 31-32, menggambarkan hubungannya yang buruk terhadap Allah, sedangkan ayat 33 menggambarkan buruknya hubungan sosial.",
                "32": "31-33. Ayat ini menjelaskan beberapa sebab mengapa para pendurhaka diseret ke neraka. karena dia dahulu tidak mau membenarkan Al-Qur’an dan Rasul dan juga tidak mau melaksanakan salat, tetapi justru dia mendustakan Rasul dan berpaling dari kebenaran. Bukan hanya sampai di situ, bahkan kemudian dia pergi kepada keluarganya dengan sombong. Dapat juga diartikan bahwa ayat 31-32, menggambarkan hubungannya yang buruk terhadap Allah, sedangkan ayat 33 menggambarkan buruknya hubungan sosial.",
                "33": "31-33. Ayat ini menjelaskan beberapa sebab mengapa para pendurhaka diseret ke neraka. karena dia dahulu tidak mau membenarkan Al-Qur’an dan Rasul dan juga tidak mau melaksanakan salat, tetapi justru dia mendustakan Rasul dan berpaling dari kebenaran. Bukan hanya sampai di situ, bahkan kemudian dia pergi kepada keluarganya dengan sombong. Dapat juga diartikan bahwa ayat 31-32, menggambarkan hubungannya yang buruk terhadap Allah, sedangkan ayat 33 menggambarkan buruknya hubungan sosial.",
                "34": "34-35. Atas sikapnya yang buruk terhadap Allah dan sesama khususnya kepada keluarga, ayat ini menggambarkan kecaman yang diterimanya. Celakalah kamu! Maka celakalah! Sekali lagi, celakalah kamu hai manusia durhaka! Maka celakalah! Kalimat dalam ayat-ayat ini tertuju kepada setiap orang yang durhaka dan mengingkari keniscayaan Kiamat.",
                "35": "34-35. Atas sikapnya yang buruk terhadap Allah dan sesama khususnya kepada keluarga, ayat ini menggambarkan kecaman yang diterimanya. Celakalah kamu! Maka celakalah! Sekali lagi, celakalah kamu hai manusia durhaka! Maka celakalah! Kalimat dalam ayat-ayat ini tertuju kepada setiap orang yang durhaka dan mengingkari keniscayaan Kiamat.",
                "36": "Pembuktian keniscayaan Kiamat pada ayat ini ditekankan pada hikmahnya. Manusia yang durhaka menduga bahwa hidup hanya di dunia setelah itu selesai. Ayat ini mengecam hal tersebut. Apakah manusia mengira, dia akan dibiarkan begitu saja tanpa pertanggungjawaban?",
                "37": "37-40. Kalau manusia menduga seperti itu, sungguh itu adalah dugaan yang keliru. Bukankah dia mulanya hanya setetes mani yang ditumpahkan ke dalam rahim, kemudian mani itu setelah bertemu dengan sel telur menjadi sesuatu yang melekat, lalu Allah Yang Mahakuasa menciptakannya dan menyempurnakan kejadiannya, lalu Dia menjadikan darinya sepasang laki-laki dan perempuan. Begitulah siklus reproduksi manusia yang diberi kesempatan hidup di dunia untuk diberi tugas dan tanggung jawab. Dan pastilah akan dibangkitkan untuk dimintai pertanggung jawaban. Bukankah Allah yang berbuat demikian hebat dan menakjubkan, berkuasa pula menghidupkan orang mati? Kalau manusia masih tetap durhaka, berarti sudah tertutup mata hatinya.",
                "38": "37-40. Kalau manusia menduga seperti itu, sungguh itu adalah dugaan yang keliru. Bukankah dia mulanya hanya setetes mani yang ditumpahkan ke dalam rahim, kemudian mani itu setelah bertemu dengan sel telur menjadi sesuatu yang melekat, lalu Allah Yang Mahakuasa menciptakannya dan menyempurnakan kejadiannya, lalu Dia menjadikan darinya sepasang laki-laki dan perempuan. Begitulah siklus reproduksi manusia yang diberi kesempatan hidup di dunia untuk diberi tugas dan tanggung jawab. Dan pastilah akan dibangkitkan untuk dimintai pertanggung jawaban. Bukankah Allah yang berbuat demikian hebat dan menakjubkan, berkuasa pula menghidupkan orang mati? Kalau manusia masih tetap durhaka, berarti sudah tertutup mata hatinya.",
                "39": "37-40. Kalau manusia menduga seperti itu, sungguh itu adalah dugaan yang keliru. Bukankah dia mulanya hanya setetes mani yang ditumpahkan ke dalam rahim, kemudian mani itu setelah bertemu dengan sel telur menjadi sesuatu yang melekat, lalu Allah Yang Mahakuasa menciptakannya dan menyempurnakan kejadiannya, lalu Dia menjadikan darinya sepasang laki-laki dan perempuan. Begitulah siklus reproduksi manusia yang diberi kesempatan hidup di dunia untuk diberi tugas dan tanggung jawab. Dan pastilah akan dibangkitkan untuk dimintai pertanggung jawaban. Bukankah Allah yang berbuat demikian hebat dan menakjubkan, berkuasa pula menghidupkan orang mati? Kalau manusia masih tetap durhaka, berarti sudah tertutup mata hatinya.",
                "40": "37-40. Kalau manusia menduga seperti itu, sungguh itu adalah dugaan yang keliru. Bukankah dia mulanya hanya setetes mani yang ditumpahkan ke dalam rahim, kemudian mani itu setelah bertemu dengan sel telur menjadi sesuatu yang melekat, lalu Allah Yang Mahakuasa menciptakannya dan menyempurnakan kejadiannya, lalu Dia menjadikan darinya sepasang laki-laki dan perempuan. Begitulah siklus reproduksi manusia yang diberi kesempatan hidup di dunia untuk diberi tugas dan tanggung jawab. Dan pastilah akan dibangkitkan untuk dimintai pertanggung jawaban. Bukankah Allah yang berbuat demikian hebat dan menakjubkan, berkuasa pula menghidupkan orang mati? Kalau manusia masih tetap durhaka, berarti sudah tertutup mata hatinya."
            }
        }
    }
}
